Warganet Zaman Now - Asdita Prasetya

Warganet Zaman Now


Gue selalu heran dengan kelakuan para warganet khususnya di Instagram dan Facebook, kayaknya para warganet enggak kehabisan topik untuk mereka perdebatkan, dikit – dikit perang komentar, beda pendapat dikit langsung ngamuk, hal sepele pun diperdebatkan, hedeeeh. Yang lebih parah lagi berita hoax makin cepat nyebar, dengan judul yang sensasional di bumbui tentang agama, pasti langsung viral dan parahnya kebanyakan orang langsung percaya tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu, hedeeeeh.

Harusnya orang – orang sadar berita hoax sangat berbahaya, sudah banyak korban yang merugi baik fisik maupun materi karena berita hoax, contohnya pak Taufik penjual bakso yang warungnya sepi karena ada pihak menyebar hoax tentang warungnya. Baca kisah pak taufik.

Taufik korban hoax
Taufik korban hoax

Tapi gue masih berpikir positif, ketika berita hoax makin menjamur ada orang - orang yang peduli dengan bahaya berita hoax, yang mereka lalukan melakukan konfirmasi berita yang tersebar di media sosial dengan caranya tersendiri dan memastikan berita yang tersebar adalah berita asli atau berita hoax, menurut gue mereka adalah pahlawan masa kini, karena jasa mereka kita bisa tahu kebenaran berita.

Sebagai catatan untuk melakukan konfirmasi sebuah berita benar atau tidak, kita perlu dilakukan survei dengan berbagai sudut pandang, dan tidak memihak pada kelompok atau individu tertentu.
Tapi yang masih bikin gue kesel adalah lebih banyak orang yang percaya berita hoax dari pada berita yang sudah dikonfirmasi, gue rasa mereka adalah orang yang punya kepala batu, sudah dibilang tapi masih aja ngeyel.

Ada banyak hal yang membuat para warganet mudah percaya berita di media sosial dan menganggap yang mereka baca dan liat adalah suatu yang benar.

Social media filter bubble merupakan salah satu faktor utama berita hoax makin cepat menyebar, istilah ini mulai dikenalkan oleh Eli Pariser seorang aktivis yang peduli dengan bahaya internet tidak sehat.

Pernah enggak beranda Facebook kalian dipenuhi dengan konten dari web yang kalian share atau like beberapa waktu lalu atau beranda hanya muncul status dari orang – orang yang statusnya kalian like dan share beberapa waktu lalu ? keadaan tadi disebabkan karena adanya algoritma Fillter Bubble.

Proses terjadinya social media fillter bubble

Fillter bubble merupakan keadaan ketika sosial media hanya menampilkan feed, kiriman, iklan atau semua layanan mereka sesuai dengan topik yang kita suka,  sehingga semua kiriman yang tidak sesuai dengan apa yang  disukai tidak akan ditampilkan, sosial media mengetahui apa yang kita suka berdasarkan riwayat halaman apa yang kita sukai, riwayat pencarian dan bahkan apa yang kita ketik pada kolom komentar.

Parahnya sebagian besar warganet tidak menyadari bahwa mereka sudah terjebak dalam fillter bubble.

Bahaya social media fillter bubble

Seorang pengguna media sosial seolah – olah akan terjebak dalam balon imajiner yang isinya merupakan mayoritas orang – orang yang sependapat dan sepemikiran dengannya. Keadaan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir warganet ketika diberikan pola pikir lain yang tidak sejalan dengan pola pikirnya.

Lalu apa hubungannya Fillter Bubble dengan penyebaran berita hoax ?

Jawabnya adalah seorang akan menerima informasi hanya dari satu sudut pandang, dan dikelilingi oleh orang – orang yang sepemikiran dengannya membuat dia semakin yakin bahwa apa yang dia bagikan adalah berita yang benar, dia akan semakin sulit untuk menerima masukan dari pihak lain karena sudah terperangkap dalam komunitas yang salah.

Sebagai warganet yang baik kita harusnya sadar, secara sengaja atau tidak kita telah terjebak dalam social media bubble, untuk meminimalisir bahaya dari social media bubble kita harus melakukan konfirmasi mengenai informasi yang kita dapatkan dan mencoba menerima masukan dari orang – orang yang tidak sependapat dengan kita.

Baca juga : Think Before Share

logoblog
Asdita Prasetya
Asdita Prasetya Updated at: 11/05/2017

19 komentar

  1. iya yah, aku baru ngeh sekarang kita terjebak dalam filter bubble, karena media sosial yang populer saat ini rata-rata pakai social media bubble.
    dan emang bener, banyak yang gak sadar dan akhirnya si hoax gampang banget diterima di pikiran kita yang akhirnya beakibat buruk buat banyak orang huhu

    BalasHapus
  2. wah iya tuh bener banget. makanya harus cerdas cerdas pake media sosial. makanya aku males share-share apa-apa, kecuali share new post di blog :D

    dan tingkat kecerdasan pengguna media sosial itu bisa dilihat dari hostory share-annya lho.

    tapi aku paling seneng bacain komentar komentar berita hoax dengan judul bombastis, isinya lucu-lucu. apalagi yang berbau-bau politik. mereka bisa berdebat sampe militan banget, padahal isi beritanya apa, judulnya apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lucu juga waktu baca comment sectionya, liat orang2 pada ribu, lucu apa prihatin ya sebenarnya hehe

      Hapus
    2. gue Prihatin juga gak ngaruh, mereka enggak prihatin sama diri sendiri. Jadi yaudahlah ya, ketawain aja selama itu lucu :D

      Hapus
  3. Betul tuh, Mas, hoax dimana-mana, dipikir yo, mereka gak mikir dlu po sebelum post, setidaknya ya, kalau berita gak bener ngapain di share, kan gitu. Toh, manfaatnya juga gak ada.. :(

    Baiknya gitu, setiap dapet berita harus kita telaah matang2, tujuannya agar berita itu benar2 real atau fakta. Jadi gak begitu dapet berita terus langsung di sahre langsung, setidaknya baca dulu ya, Mas :D

    Menerima saran atau masukan dari orang lain itu sebenarnya baik, selain dapat informasi, kita juga jadi tahu mana yang benar atau gk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya mereka juga menyebar hoax demi popularitas aja..

      Hapus
  4. Sebenarnya kalau ditinjau dari sudut pandang lain, terutama dari sisi media, ini juga ada hubungannya dengan finansial. Karena hal-hal viral baik hoax ataupun tidak tentu akan mengangkat pamor media tersebut sehingga revenuenya pun meningkat, itu mungkin yang membuat algoritma ini tetap dipertahankan media. Apalagi di Indonesia yang angka melek bacanya rendah sehingga kebanyakan kalau nongol di timeline, yang bacaannya dikit langsung deh dibaca tapi sekalinya panjang males padahal yang panjang itu biasanya ada penjelasannya. Nah, malah yang dishare yang pendek yang gak jelas isinya xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu pasti ada yang memanfaatkannya, tapi bagi orang awam akan mudah untuk terpengaruh

      Hapus
  5. oke, aku baru tau ada istilah filter bubble. kita sebagai netizen tentunya harus open minded dan bersikap bijak terhadap isu. tapi untungnya filter bubble ku bukan tentang doi *eh lol

    BalasHapus
  6. Benar banget emang, orang tuh kadang terlalu cepat percaya sama hoax, nemu berita apa langsung share, nggak di telusuri kejelasan dari berita tersebut, ya jadi emang warganet harus lebih pinter ya buat ngeshare berita, nggak asal share dan percaya

    BalasHapus
  7. People jaman now hobinya kok nyebar hoax -_-
    Mungkin demi popularitas jadi suka nyebarin hoax biar dibilang up to date haha

    BalasHapus
  8. kalau yang aplikasi seperti instagram gue udah tau tuh, biasanya yang ditamilkan di feed eksplore dari apa yang kita minati dan like dari akun'' yang kita ikuti. ini namanya filter bubble juga bukan? tapi kalo yang masalah berita hoax itu, ya kembali ke orangnya sih. mungkin aja orangnya kurang kritis dan langsung gampang percaya dengan berita tersebut. tapi yang jahat ya itu si, orang'' yng bukannya menyebarkan berita yang informatif, malah bikin berita bohong. apalagi sampe bikin berita boong untuk menjatuhkan orang lain. asli sih, itu ga punya hati atau otak ya manusia kayak gitu. kesel sendiri gue.

    yah, sekarang apa'' makin mudah, seharusnya bisa lebih kritis juga jgan langsung percaya dengan apa yg dibaca atau didengar. harus research. klo apa'' dikelilingi berita hoax, coba inget'' dia follow akun apaan. bisa jadi akun penyebar kebencian lagi. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sasaran para penyebar hoax adalah orang - orang yang malas, ya malas karena mereka langsung percaya gitu aja, contohny hoax tahun 90an dengan judul yang bombastis " Anak dikutuk Jadi ikan pari karena durhaka "

      Hapus
  9. ALhamdulillah Sosmedku semakin hari semaki berkurang berita Hoxnya karna aku selalu membasmi tiap akun ya ga jelas jundrunganya.
    Bahkan hampir tiap hari aku selalu meng unfriend minimal 1 teman yang kurasa kurang pantas tampil di berandaku.
    Sosmed itu netral tergantung penggunanya, jika dimanfaatkan akan memberi dampak postitiv yang luar biasa :)
    makasih bang sudah peduli dengan kode etik bersosmed di jaman now

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, yang gue lakuin jga gitu mas, kalo ada temen yang post hoax atau aneh - aneh langung aku unfriend

      Hapus
  10. Gue sih pake sosial nedia untuk hiburan. Kadang2 untuk promosi sesuatu. Jadi, tentang kebijakan memakai sosial media, itu dari anak jaman now-nya sendirišŸ˜€

    BalasHapus
  11. Klo ada yg maen pesbuk n share berita hoax dan gak begitu kenal. Langsung gue blok aja. Wkwkw

    Sekarang emang perang berita. Jadi tinggal kitanya aja sih harus lebih bijak lagi.

    BalasHapus